Selasa, 16 Maret 2010

F*CK! (Ini Serius)

Ini bukan mau mencarut (omong kotor) atau memaki. Ini bener-bener serius mau cerita tentang asal-usul kata fuck. Petunjuk pentingnya adalah:
gxddbov
Loh?! Apa itu?

Catatan tertua adanya kata fuck adalah sebuah puisi berbahasa campuran Inggris-Latin sebelum tahun 1500-an. Judulnya Flen Flyys, yang dicomot dari baris pertama, ”Flen, flyys, and friars." (artinya: kutu, lalat, dan biarawan). Bisa diduga ini adalah puisi sindiran. Ini memang puisi sindiran terhadap biarawan Carmelite di Cambridge ketika itu.


Dalam puisi itu, satu barisnya tertulis demikian:
Non sunt in coeli, quia gxddbov xxkxzt pg ifmk
Bagian awal kalimat jelas merupakan kata-kata bahasa Latin. Tetapi deretan huruf ”gxddbov xxkxzt pg ifmk” tidak jelas bahasa apa. Itu seperti tak punya makna. Apakah kesalahan pada percetakan atau proof reader-nya?

Rupanya si penulis menggunakan code untuk menyembunyikan maksud hatinya. Decode-nya adalah dengan menggantikan tiap huruf dengan satu huruf sebelumnya dalam alfabet. Jadinya terbaca demikian:
Code: gxddbov xxkxzt pg ifmk
Decode: fvccant vvjvys of helj
Perlu diketahui dalam bahasa Latin, huruf v juga berfungsi sebagai huruf u (ingat logo band REPVBLIK). Huruf v ganda, yaitu vv, berfungsi huruf w. Adapun huruf j juga berfungsi sebagai huruf i (misalnya Julius yang ditulis sebagai IVLIVS).

Jadi,
fvccant vvjvys of helj
akhirnya dapat dibaca sebagai:
fuccant wivys of heli

Dilihat dari bentuk katanya, fuccant merupakan bahasa latin, yang artinya “(mereka) berhubungan kelamin”. Tetapi, kesimpulan sementara para ahli, itu merupakan bahasa latin semu (pseudo latin). Soalnya, dalam bahasa Eropa lain, terdapat kosakata fukka (dari Norwegia), lalu muncul dalam bahasa Swedia sebagai focka dan fock. Juga terdapat kosakata Inggris pertengahan yaitu fkye; fike, yang diperkirakan dari kosakata daerah laut Utara fokken. Tentang artinya, tak usahlah diperjelas di sini karena bener-bener 21 tahun plus-plus. Terbukti, UU Penerbitan Cabul tahun 1857 di Inggris dan UU Comstock 1873 di AS, melarang penggunaan kata ini dalam penerbitan.
Keseluruhan baris puisi tadi, setelah didecode berbunyi “Non sunt in coeli, quia fuccant wivys (ini adalah cara penulisan Inggris kuno untuk kata “wifes”) of heli (heli=Ely, sebuah kota dekat Cambridge)”. Jika diterjemahkan artinya kira-kira, “Mereka tidaklah masuk surga, karena mereka berhubungan kelamin dengan isteri-isteri di Ely”.

Nah, cerita yang menarik fuccant? Maksud saya: bukan?

JAZZ DI KUBURAN (PICNIC IN DIXIELAND)

Subgenre/style: Dixieland./Hot Jazz/New Orleans Jazz

Ia muncul dan berkembang di New Orleans pada awal abad 20. Ia lalu menyebar ke kota lain, Chicago dan New York di era 1910-an setelah dibawa oleh band-band asal New Orleans.

Jalur lintas perkembangan musik

Musik ini meriah, ramai, kaya nada, kaya improvisasi, riang, cocok untuk mengusir kesedihan. Ia mengoplos alat-alat musik tiup dari drum band militer dengan kuartet musik ala Perancis, juga ragtime dan blues, ditambah improvisasi polifonik oleh berbagai musik tiup (yang jika harus disebut terdiri dari: terompet, kornet, trombon, klarinet dengan iringan piano, gitar banjo, drum, dan double bass atau tuba).


Penyebutan segala alat musik tadi sudah sangat menggambarkan keramaian dan kemeriahan dixieland. Buktinya, cobalah simak lagu standard dixieland ini, “When the Saints Go Marching In” dan “Basin Street Blues”. Coba juga mampir ke http://www.nodepression.com/profile/DixielandBandBoston. Begitu sampai di situs itu, kita akan langsung disambut macem2 lagu dixieland. Seperti nama situsnya, nodepression dot com, asli.. emang gak bikin depresi.

Ketika menyimak lagu dixieland, saran saya, pastikan dulu nggak ada orang di kiri-kanan-depan-belakang.Atau kalau kamu memang nggak peduli ada orang ato tidak, nggak peduli bakal ditatap aneh orang. Maka saya nggak tanggungjawab kalau kamu tiba-tiba melonjak-lonjak kayak tarian indian memanggil hujan... (dan ketagihan) ;)

1. Dukes of Dixieland, When the Saints Go Marching In: http://www.youtube.com/watch?v=6Q0zZ0VdlUM
Cicipi juga, When the Saints yang di situs http://www.nodepression.com/profile/DixielandBandBoston

Sudah dengar? Lagu yang ramai dan riang bukan? Anehnya, lagu ini sebenarnya dan pada mulanya adalah lagu untuk perkabungan. Dinyanyikan ketika mengiringi jenazah untuk dikuburkan! Tak heran lagu ini dijuluki “jazz funeral” (jazz pemakaman).

Jazz Pemakaman

Ide lagu ini memang bersumber dari Alkitab yang menggambarkan keadaan hari kiamat ketika semua manusia diadili perbuatannya (day of judgement). Dalam pengadilan itu sejumlah manusia, yang terbilang sebagai orang-orang suci (the saints), diputuskan untuk masuk ke dalam (go marching in) surga. Itulah sebabnya lagu ini berisi pengharapan agar dapat masuk dalam bilangan (that number) orang-orang suci tersebut. Seperti diujarkan liriknya:
Oh, when the saints go marching in
Oh, when the saints go marching in
Lord, how I want to be in that number
When the saints go marching in

Bergesernya When the Saints dari musik spiritual, disebut-sebut Louis Armstrong-lah yang mempopulerkannya menjadi musik hiburan dan menjadi lagu standar jazz dixie/New Orleans. Bisa didengarkan versi yang dimainkan Armstrong di sini: http://www.youtube.com/watch?v=wyLjbMBpGDA

Lagu ini pun telah menjadi identitas kota New Orleans sehingga tim american footbal setempat diberi nama New Orleans Saints. Tak kurang "When the Saints" juga jadi lagu yel-yel mereka.

Kostum New Orleans Saints

“When the Saints” juga telah banyak dinyanyikan ulang oleh berbagai musisi dengan versi masing-masing, bahkan oleh band punk (dalam subgenre OI!) sekalipun. Seperti oleh band Condemned 84 yang memodifnya menjadi When The Boots Go Marching In. Cicipi di sini: http://www.youtube.com/watch?v=yvXJ8fxlV28

2. Louis Prima, Basin Street Blues: http://www.youtube.com/watch?v=IijXXXpUefM

PICNIC IN JAZZLAND

GENRE: JAZZ
Subgenre/style: Ragtime/ragged time

Bisa dikatakan sebagai genre musik orisinal koloni Amerika. Secara musikal, ia berasal dari musik mars militer yang kemudian menjadi populer setelah dimodifikasi oleh John Philip Sousa dengan menambahkan poliritme khas musik Afrika. Puncak popularitasnya antara 1897-1918.

John Philip Sousa

Digunakan sebagai musik dansa di kawasan lampu merah kota Amerika seperti St. Louis dan New Orleans. Jika musik pop masa sekarang ditandai dengan launching album atau single maka di zaman itu ditandai dengan penerbitan lembaran notasi lagunya (sheet music). Sheet musik ragtime pun diterbitkan dengan notasi yang ditujukan untuk dimainkan oleh piano sehingga terkesan ragtime adalah musik piano.

Lagu prototype ragtime yang sempat direkam, adalah The Wagon (1925) oleh Ben Harney. Bisa disimak di sini: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/1d/TheWagon.ogg

Scott Joplin

Sementara komposer ragtime yang terkenal adalah Scott Joplin, dengan lagunya yang paling dikenal dapat disimak di sini:
1. Maple Leaf (1899): http://www.youtube.com/watch?v=pMAtL7n_-rc


2. The Entertainer (1902), versi piano: http://www.youtube.com/watch?v=7cFkae0j_Ns
versi gitar: http://www.youtube.com/watch?v=kHtwF-gpluc
Ini lagu yang indah. Saya sangat menyukainya. Lagu ini sangat populer, biasanya hampir setiap film bertema cowboy, mesti menyisipkan lagu ini.
Contoh ragtime lainnya bisa dicicipi di sini:
Vess L. Ossman, A Bunch of Rags (1898): http://www.redhotjazz.com/songs/rags/abunchofrags-Ossman-1898.ram
Fred S. Stone, Ma Rag Time Baby (1899) http://www.redhotjazz.com/songs/rags/Maragtimebaby-Edison-700.ram

Samar-samar mungkin kita teringat jika kalau nonton film komedi atau bagian film yang jenaka, biasanya soundtracknya bernuansa musik ragtime ini atau musik dixieland. Paling khas adalah suara sengau dan cempreng, “kwak…kwak.. kwak...kwaaaak” dari suara terompet yang moncongnya disumpal.