Mengalami masa remaja di akhir 80-an, aku merasa jenuh dengan soundscape musik masa itu. Kalau tidak rentetan suara mekanis drum digital ala musik breakdance atau new wave (Aha, Alphaville, Human League, Duran Duran, Madonna, dsb.), paling-paling dapat suguhan hard rock genre American metal. Di genre ini, waktu itu Van Halen memang sedang berkibar. Keren abislah cabikan gitar bang Eddie VH ini, juga pilihan sound drum bang Alex VH. Tambah lagi, desisan synthesizer yang occasionally dimainkan Eddie (ingat “Jump” yang sangat anthemic itu), mendistingsikan genre musik mereka dari hard rock yang lain. VH memang cool, hanya saja kemudian banyak yang mengekor gaya mereka dengan varian masing-masing. Sehingga perbedaan yang satu dengan yang lain beda-beda tipis (seperti adegan Dedi Mizwar meneteskan air dari sendok dalam iklan yamaha).
Mungkin kejenuhan yang sama juga dirasakan teman sebaya. Karena, anehnya, teman-teman malah menggandrungi The Beatles yang jadul dan bersahaja dalam polesan teknologi sehingga produksi suaranya terdengar primitif tapi murni. Aku sendiri, entah kenapa, tidak terbawa ke dalam arus Beatlesmania itu. Bukan karena tidak suka. Sesungguhnya mendengar Beatles selalu membuatku deja vu, seperti pernah mengalami Beatles di suatu masa, yang agaknya adalah saat-saat pertama gendang telinga balitaku digetarkan Obladi Oblada atau bagian coda Hey Jude dari radio transistor kakek. Alih-alih gandrung Beatles, music sense-ku sedang nyantol kepada Queen. Ada banyak aspek dan impresi yang bisa diceritakan tentang Queen dan musiknya, tapi di kesempatan lain saja. Singkat cerita, Queen dan musiknya telah menjadi soundtrack kehidupan masa sekolah dan kuliahku.
Sampai suatu ketika di pertengahan 90-an, suatu malam sepulang berburu literatur keperluan skripsi di perpustakaan kampus, aku menyantaikan diri dengan berjalan kaki menikmati suasana. Hingga kemudian berlalu di hadapan gerobak dorong seorang bapak tua. Ia menjual kaset bekas. Ini bukan tempat yang biasa kukunjungi untuk menambah koleksi musik. Jadi, pikirku, let’s see apa yang dia punya. Diterangi lampu petromax, aku mulai memindai tajaan Pak tua bertopi gaya Ho Chi Minh itu, siapa tahu layak koleksi.
Aha...! Mataku tertuju pada nama Nick Mamahit yang terbaca pada sisi kaset. Aku coba recall nama itu, yang tak lazim di musik populer Indonesia ini. Ya, rasa-rasanya dia selalu disebut segandeng dengan musisi jazz kawakan seperti Jack Lesmana, Bubi Chen, Maulana bersaudara, semacam itulah (please... aku bukan jazzmania). Tak terlalu salah, ketika aku minta agar kaset tersebut coba diputar, terdengar musik yang mengedepankan solo piano. Piano memainkan sebuah lagu dipopulerkan Benyamin Sueb, “Nonton Bioskop”, tetapi dengan penyampaian yang jazzy. Kejenakaan Benyamin dan kelugasan ala Betawi di lagu itu berubah menjadi smooth and cool oleh interpretasi Om Nick Mamahit. Aku merasa cocok, tawar-menawar harga pas, kaset ber-casing hitam dan sampul hijau pindah ke dalam tas.
Sebenarnya malam itu aku membeli dua kaset. Selain Nick Mamahit ada satu kaset lagi yang hingga sekarang aku tak pernah ingat mengapa dulu membelinya. Bahkan seingatku aku merasa tak mencobanya lebih dahulu sebelum membeli di gerobak kaset itu. Kaset itu tak bersampul, berlabel aquarius, bertipe maxell ud, ber-etiquette warna putih yang telah kumal dan menguning. Ketika aku memutar kaset itu, terdengar riff permainan bass ditingkahi suara gitar yang cempreng karena midrange-nya dimaksimalkan. Sementara di latar belakang, suara snare drum yang mengawal beat terdengar seperti “berdetak” atau “berdentang” ketimbang “bergemeretak” sebagaimana lazimnya suara snare drum. Musik yang dimainkan tidak ramai. Bagiku lebih mirip band sekolah yang sedang gladi kotor secara unplugged. Semacam itulah... Well, tetapi rasanya renyah sekali sehingga tidak terasa satu kaset, side A dan B telah aku dengar tuntas. Dan, aku masih mau lagi.
Akhirnya memoriku kembali. Teringat pada hiruk-pikuk mulut teman-teman SD dulu ketika kelas ditinggal guru setelah diberi tugas. Si Teguh yang cadel coba mereproduksi bahasa Inggris yang didengarnya, “Wi kut bi tugedel, wakin on de mun... so dey sey, wising on wes o weyy...” Ya, itulah “Walking on The Moon” dari Police. Si Yose yang paling duluan puber dengan suara pecah, belang-belang, dan sangat tidak pitch control, dengan masa bodoh terus saja memolusi suara dengan, “Ai ken..ai ken.. ai ken.. stop ai ken.. ai ken.. ai ken stop...,” tanpa menuntasinya dengan “loving you” sebagaimana harusnya dalam “Can’t Stop Loving You”.
Pemirsa... musik siapakah yang terdengar dari kaset tak bersampul dan dibeli tanpa alasan itu? Ya, anda pasti sudah tahu dari judul artikel ini, jadi udah nggak suspense lagi. Anyway, ketika itu aku pun baru paham kalo itu Police. Sejak pendengaran pertama itu, Police termasuk list teratas dalam repertoar wajib dengarku. Tak lama setelah itu, aku kenal senior yang ternyata seorang penggemar Police tersisip di tengah kaum muda yang sedang dibanjiri heavy metal. Passionately dia tumpahkan cerita yang dia ketahui tentang Police hingga aku tak sanggup menampung semua ceritanya. Tetapi aku merasa, pada dasarnya kami orang pemilih yang tak tergoda trend. Kami setia pada satu musik, hanya berpindah ke lain musik ketika kami mau. Bukan karena clip, advertorial, atau promo campaign.