Sabtu, 15 Agustus 2009

anecdROCKte

Bob Dylan, di akhir 70-an meluncurkan album musik religi “Slow Train Coming” (1979). Satu lagu dari album tersebut meraih Grammy yaitu “Gotta Serve Somebody” (John Lennon, sebelum terbunuh, merespon dengan merekam “Serve Yourself”). Rupanya Dylan sedang mengalami satu fase religiositas. Ia terlahir kembali sebagai seorang Kristen. Tak cuma religusitas dalam lagu. Ketika dalam proses rekaman, Dylan pun mengkhotbahi Jerry Wexler sang produser, yang tergolong “sesepuh” dikalangan produser.


Mbah Jerry memperjelas sikap teologisnya dengan menjawab, "Bob, you're dealing with a sixty-two-years old Jewish atheist. Let's just make an album."

MUMO -- MUSIK UNTUK MOOD TIDUR

Tidur dini hari atau insomnia sudah terlalu akrab dengan kehidupan mahasiswa. Sampai-sampai tidak lagi dianggap penyakit atau kelainan. Benar-benar sukar membuat mata terkantuk dan badan meletih sehingga bisa terbaring lelap pada jam-jam sebelum 24:00. Sebuah tips tidur cepat si Udi, seorang kenalan, baru saya dengar setahun lalu. Katanya, dia menyetel kaset –I mean it, kaset! Kala itu, let alone mp3 player, cd player saja belum familiar menjadi properti di kamar kost seorang mahasiswa. Kaset yang dia putar bukanlah memperdengarkan musik atau semacamnya, tetapi... anu... suara perempuan dalam peristiwa biologis yang disebut climax, you know lahh... Saya cukup tahu bahwa barang-barang rating xxx berupa video atau gambar memang bisa diperoleh, tetapi kalau berbentuk kaset audio aih... daku merasa “hijau daun” tentang itu. Demikian sedikit tentang device penina-bobok kawan satu ini.
Saya sendiri punya tips cepat tidur dengan berjalan-jalan di sore hari. Memanfaatkan momen pulang kampus, mengganti naik bus dengan naik kaki sendiri sejauh kurang lebih 4 km. Segera mandi setiba di tempat lalu makan malam. Selain itu juga sambil mendengar musik-musik non-beat. Biasanya saya mendengarkan Bob Dylan, some 60-70’s musics (my fave: Carpenter dan Bread), atau Four Seasons Strings-nya Vivaldi. Dengan cara demikian lumayanlah terasa lebih mudah tidur. Bangun tidur pun lebih cepat, jam 3 pagi. Terlalu cepat ya? Mo ngapain sepagi itu? Saya jadi ingat Mbah Surip, “Bangun tidur... tidur lagi, habis bangun, tidur lagi...”

MY_AMPs -- PENDENGAR POLICE YANG TERLAMBAT

Mengalami masa remaja di akhir 80-an, aku merasa jenuh dengan soundscape musik masa itu. Kalau tidak rentetan suara mekanis drum digital ala musik breakdance atau new wave (Aha, Alphaville, Human League, Duran Duran, Madonna, dsb.), paling-paling dapat suguhan hard rock genre American metal. Di genre ini, waktu itu Van Halen memang sedang berkibar. Keren abislah cabikan gitar bang Eddie VH ini, juga pilihan sound drum bang Alex VH. Tambah lagi, desisan synthesizer yang occasionally dimainkan Eddie (ingat “Jump” yang sangat anthemic itu), mendistingsikan genre musik mereka dari hard rock yang lain. VH memang cool, hanya saja kemudian banyak yang mengekor gaya mereka dengan varian masing-masing. Sehingga perbedaan yang satu dengan yang lain beda-beda tipis (seperti adegan Dedi Mizwar meneteskan air dari sendok dalam iklan yamaha).
Mungkin kejenuhan yang sama juga dirasakan teman sebaya. Karena, anehnya, teman-teman malah menggandrungi The Beatles yang jadul dan bersahaja dalam polesan teknologi sehingga produksi suaranya terdengar primitif tapi murni. Aku sendiri, entah kenapa, tidak terbawa ke dalam arus Beatlesmania itu. Bukan karena tidak suka. Sesungguhnya mendengar Beatles selalu membuatku deja vu, seperti pernah mengalami Beatles di suatu masa, yang agaknya adalah saat-saat pertama gendang telinga balitaku digetarkan Obladi Oblada atau bagian coda Hey Jude dari radio transistor kakek. Alih-alih gandrung Beatles, music sense-ku sedang nyantol kepada Queen. Ada banyak aspek dan impresi yang bisa diceritakan tentang Queen dan musiknya, tapi di kesempatan lain saja. Singkat cerita, Queen dan musiknya telah menjadi soundtrack kehidupan masa sekolah dan kuliahku.
Sampai suatu ketika di pertengahan 90-an, suatu malam sepulang berburu literatur keperluan skripsi di perpustakaan kampus, aku menyantaikan diri dengan berjalan kaki menikmati suasana. Hingga kemudian berlalu di hadapan gerobak dorong seorang bapak tua. Ia menjual kaset bekas. Ini bukan tempat yang biasa kukunjungi untuk menambah koleksi musik. Jadi, pikirku, let’s see apa yang dia punya. Diterangi lampu petromax, aku mulai memindai tajaan Pak tua bertopi gaya Ho Chi Minh itu, siapa tahu layak koleksi.
Aha...! Mataku tertuju pada nama Nick Mamahit yang terbaca pada sisi kaset. Aku coba recall nama itu, yang tak lazim di musik populer Indonesia ini. Ya, rasa-rasanya dia selalu disebut segandeng dengan musisi jazz kawakan seperti Jack Lesmana, Bubi Chen, Maulana bersaudara, semacam itulah (please... aku bukan jazzmania). Tak terlalu salah, ketika aku minta agar kaset tersebut coba diputar, terdengar musik yang mengedepankan solo piano. Piano memainkan sebuah lagu dipopulerkan Benyamin Sueb, “Nonton Bioskop”, tetapi dengan penyampaian yang jazzy. Kejenakaan Benyamin dan kelugasan ala Betawi di lagu itu berubah menjadi smooth and cool oleh interpretasi Om Nick Mamahit. Aku merasa cocok, tawar-menawar harga pas, kaset ber-casing hitam dan sampul hijau pindah ke dalam tas.
Sebenarnya malam itu aku membeli dua kaset. Selain Nick Mamahit ada satu kaset lagi yang hingga sekarang aku tak pernah ingat mengapa dulu membelinya. Bahkan seingatku aku merasa tak mencobanya lebih dahulu sebelum membeli di gerobak kaset itu. Kaset itu tak bersampul, berlabel aquarius, bertipe maxell ud, ber-etiquette warna putih yang telah kumal dan menguning. Ketika aku memutar kaset itu, terdengar riff permainan bass ditingkahi suara gitar yang cempreng karena midrange-nya dimaksimalkan. Sementara di latar belakang, suara snare drum yang mengawal beat terdengar seperti “berdetak” atau “berdentang” ketimbang “bergemeretak” sebagaimana lazimnya suara snare drum. Musik yang dimainkan tidak ramai. Bagiku lebih mirip band sekolah yang sedang gladi kotor secara unplugged. Semacam itulah... Well, tetapi rasanya renyah sekali sehingga tidak terasa satu kaset, side A dan B telah aku dengar tuntas. Dan, aku masih mau lagi.
Akhirnya memoriku kembali. Teringat pada hiruk-pikuk mulut teman-teman SD dulu ketika kelas ditinggal guru setelah diberi tugas. Si Teguh yang cadel coba mereproduksi bahasa Inggris yang didengarnya, “Wi kut bi tugedel, wakin on de mun... so dey sey, wising on wes o weyy...” Ya, itulah “Walking on The Moon” dari Police. Si Yose yang paling duluan puber dengan suara pecah, belang-belang, dan sangat tidak pitch control, dengan masa bodoh terus saja memolusi suara dengan, “Ai ken..ai ken.. ai ken.. stop ai ken.. ai ken.. ai ken stop...,” tanpa menuntasinya dengan “loving you” sebagaimana harusnya dalam “Can’t Stop Loving You”.
Pemirsa... musik siapakah yang terdengar dari kaset tak bersampul dan dibeli tanpa alasan itu? Ya, anda pasti sudah tahu dari judul artikel ini, jadi udah nggak suspense lagi. Anyway, ketika itu aku pun baru paham kalo itu Police. Sejak pendengaran pertama itu, Police termasuk list teratas dalam repertoar wajib dengarku. Tak lama setelah itu, aku kenal senior yang ternyata seorang penggemar Police tersisip di tengah kaum muda yang sedang dibanjiri heavy metal. Passionately dia tumpahkan cerita yang dia ketahui tentang Police hingga aku tak sanggup menampung semua ceritanya. Tetapi aku merasa, pada dasarnya kami orang pemilih yang tak tergoda trend. Kami setia pada satu musik, hanya berpindah ke lain musik ketika kami mau. Bukan karena clip, advertorial, atau promo campaign.

PALEOROCKOLOGY -- PROTO BAND

Kita telah familiar dengan konfigurasi sebuah band yang terdiri dari satu set drum, satu atau dua gitar, satu bas, seorang vokalis, dengan atau tanpa keyboard. Susunan itulah yang menjadi prototype band, termasuk band rock. Well, tetapi di “zaman purba” band, pernah terjadi konfigurasi yang sangat berbeda dengan band di masa kini. Berbeda dengan evolusi makhluk yang kian rumit, evolusi band malah makin simple.
Apa yang kini dikenal sebagai band, dulu berasal dari perangkat musik tentara yang digunakan untuk menggenjot semangat bertempur. Jadi snare drum, bass drum, cymbal, dan terompet (atau alat musik tiup semacamnya) dulu digunakan untuk keperluan militer. Di masa damai, sekelompok musisi termasuk musisi kulit hitam menggunakan alat musik militer tersebut. Di gambar berikut ini kita bisa melihat “purbakala” sebuah band dengan drum set yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Jazzing_orchestra_1921.png)

Terlihat set drum yang digunakan terdiri dari snare drum, bass drum, 2 buah cow bell (menempel di badan bass drum), 2 simbal. Uniknya satu simbal digantung tetapi yang satu lagi terpasang di badan bass drum bagian samping kiri pada gambar. Tidak terlihat di situ tom-tom danKonfigurasi band ini selain drum, terdiri dari 1 biola, 1 kontrabas (biola bas besar), 1 terompet, dan 1 (kelihatannya) trombone. Dengan konfigurasi alat musik demikian, band ini menyebut dirinya, terbaca pada depan bass drum, “Jazzing Orchestra, King Carter, Houston Tex”. Nah, kapan semua alat musik tiup dan gesek tadi berganti menjadi gitar, bass, dan keyboard? Wadohhh... capek nehh kalo nyeritain sendiri...

PENJELASAN JUDUL ENTRI

PALEOROCKOLOGY
Tentang masa lalu seputar perkembangan musik rock

MY_AMPs (My Aempression)
Impresi pribadi seputar pengalaman diri dan musik

MUMO (Music and Mood)
Seputar pengalaman musikal yang terkait dengan mood

anecdROCKte
Anecdote..anecdote.., tau dunkkk?